Sabtu, 15 Agustus 2026

Ngaji Kitab Qimatuzzaman ‘Indal Ulama’ (Berharganya Waktu menurut Para Ulama’) Seri Ke - 6


 

Allah ta’ala bersumpah dengan sesuatu yang Allah kehendaki. Allah ta’ala bersumpah dengan diriNya sendiri di dalam Al Qur’an: 


QS. Adz-Dzariyat: Ayat 23 (Juz 26)

فَوَرَبِّ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ اِنَّهٗ لَحَقٌّ مِّثْلَ مَآ اَنَّكُمْ تَنْطِقُوْنَࣖ

Maka, demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya (apa yang dijanjikan kepadamu itu) pasti akan nyata seperti (halnya) kamu berucap.


dan Allah ta’ala bersumpah dengan perbuatan²Nya yang luar biasa dan ciptaan²nya yang bagus:


QS. Asy-Syams: Ayat 5 dan 6 (Juz 30)

وَالسَّمَاۤءِ وَمَا بَنٰىهَاۖ

demi langit serta pembuatannya,

وَالْاَرْضِ وَمَا طَحٰىهَاۖ

demi bumi serta penghamparannya,


Allah ta’ala bersumpah dengan waktu:


QS. Adh-Dhuha: Ayat 1 dan 2 (Juz 30)

وَالضُّحٰىۙ

Demi waktu duha

وَالَّيْلِ اِذَا سَجٰىۙ

dan demi waktu malam apabila telah sunyi,



QS. Al-Fajr: Ayat 1 dan 2 (Juz 30)

وَالْفَجْرِۙ

Demi waktu fajar,

وَلَيَالٍ عَشْرٍۙ

demi malam yang sepuluh,


Secara makna, bersumpah dengan waktu-waktu tersebut adalah bersumpah dengan Allah ta’ala karena Allah lah yang membuat dan menciptakannya. Ibnul Qoyyim berkata: Sesungguhnya Allah ta’ala bersumpah di dalam Al Qur’an dengan sesuatu atas sesuatu yang lain. Maka Allah ta’ala bersumpah dengan DzatNya yang disifati dengan sifatNya, bersumpah dengan tanda-tanda kebesaranNya yang dikehendaki untuk menetapkan DzatNya dan sifatNya, dan bersumpah dengan sebagian makhlukNya untuk menunjukkan bahwa mereka termasuk di antara tanda-tandaNya yang agung. Bisa dilihat bahwa setiap perkara yang Allah ta’ala bersumpah dengan waktu atasnya maka perkara tersebut adalah perkara yang menempati derajat urgensi yang paling tinggi. Sumpahnya Allah ta’ala dengan waktu itu ada pada 2 (dua) perkara yang sangat penting: pertama, membebaskan Rasul Shallallahu alaihi wassalam dari klaim/anggapan orang-orang musryik dan musuh²  bahwa Allah meninggalkan beliau. Tempat yang lain (kedua) adalah menjelaskan bahwa setiap manusia itu merugi dan binasa kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholih. 


Allah ta’ala berfirman seraya bersumpah dengan waktu: 


QS. Adh-Dhuha: Ayat 1-3 (Juz 30)

وَالضُّحٰىۙ

Demi waktu duha

وَالَّيْلِ اِذَا سَجٰىۙ

dan demi waktu malam apabila telah sunyi,

مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلٰىۗ

Tuhanmu (Nabi Muhammad) tidak meninggalkan dan tidak (pula) membencimu.


Allah ta’ala juga berfirman:


QS. Al-'Ashr: Ayat 1 (Juz 30)


وَالْعَصْرِۙ

Demi masa,

اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ

sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian,

اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِࣖ

kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran.


Sayyidina Abdullah bin Abbas (tintanya umat, ahli tafsirnya Al Qur’an) berkata: makna lafadz Al Ashr adalah zaman/waktu.


Wallahua’lam bisshowaabb….

Bersambung….


والله تعالى أن يُقْسِمَ بما شاء، فأقسم تعالى بنفسه في القرآن : ﴿فَوَرَبِّ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ إِنَّهُ لَحَقٌّ﴾^{(1)} ، وأقْسَمَ بأفعاله العجيبة، ومصنوعاته البديعة : ﴿وَالسَّمَاءِ وَمَا بَنَاهَا ، وَالْأَرْضِ وَمَا طَحَاهَا﴾^{(2)} ، وأقْسَمَ بالزمن والوقت : ﴿وَالضُّحَى وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى﴾، ﴿وَالْفَجْرِ وَلَيَالٍ عَشْرٍ﴾، والقَسَمُ بها في معنى القَسَمِ به تعالى، إذ هو صانعُها ومُبْدِعُها .

قال ابنُ القيم : إنه يُقسمُ في القرآن بأمورٍ على أمور، فيُقْسِمُ بذاته الموصوفة بصفاته، وبآياته المستلزمة لإثبات ذاته وصفاته، ويُقْسِمُ ببعض مخلوقاته، للدلالة على أنها من عظيم آياته . انتهى .

ويُلاحَظُ أنَّ كلَّ ما أقسم اللهُ عليه بالزَّمَن ، كان هاماً في أعلى دَرَجَاتِ الأهميَّة، وكان قَسَمُهُ بالزمن في أَمْرَيْنِ هَامَّينِ جدَّاً، أحدهما تَبْرِئَةُ الرسولِ صَلَّى الله عليه وسلَّم ، من أن يكونَ هَجَرَهُ ربهُ كما زَعَمَ ذلك المشركون والأعداء . والمقامُ الآخَرُ في بيانِ أنَّ كلَّ إنسانٍ خاسرٌ وهالكٌ إلَّا الذين آمنوا وعملوا الصالحات .

فقال سبحانه مُقْسِماً بالزَّمَن : ﴿وَالضُّحَى ؛ وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى ؛ مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى﴾^{(3)} ، وقال أيضاً : ﴿وَالْعَصْرِ ؛ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ ؛ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ﴾^{(4)} .

قال حَبْرُ الأمة وتُرْجُمانُ القرآن سيدنا عبدُ الله بن عباس رضي الله عنهما : العَصْرُ هو الزمن .

الحواشي

(١) من سورة الذاريات، الآية ٢٣ .

(٢) من سورة الشمس، الآيتان ٥ و ٦ .

(٣) من سورة الضحى، الآيات ١ _ ٣ .

(٤) zسورة العصر .

Rabu, 05 Agustus 2026

Ngaji Kitab Qimatuzzaman ‘Indal Ulama’ (Berharganya Waktu menurut Para Ulama’) Seri Ke - 5


 

Imam Ibnu Katsir menafsirkan ayat yang mulia ini di dalam kitab tafsirnya:


Maksudnya: Bukankah kalian telah hidup di dunia ini dalam rentang usia yang—sekiranya kalian termasuk orang yang mau mengambil manfaat dari kebenaran—niscaya kalian telah memanfaatkannya sepanjang masa hidup kalian itu!


Qatadah berkata: Ketahuilah bahwa umur yang panjang itu adalah sebuah hujjah (alasan yang menuntut pertanggungjawaban), maka kami berlindung kepada Allah agar tidak mendapat celaan sebab umur yang panjang.


Allah menghilangkan udzur (alasan untuk tidak beramal baik) atas orang yang umurnya mencapai 60 tahun


Imam Bukhori meriwayatkan hadist dalam kitab shohihnya, dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, beliau berkata: Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam berdabda: “Allah ‘azza wajalla menghilangkan udzur (alasan) seseorang yang diakhirkan umurnya hingga mencapai 60 tahun”


Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya, dari Abu Hurairah juga: Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam berdabda: “Barangsiapa yang dipanjangkan umurnya oleh Allah mencapai 60 tahun maka sungguh Allah telah menghilangkan udzur (alasan) kepadanya”, maksudnya adalah Allah telah menghilangkan udzurnya dan tidak tersisa baginya tempat untuk beralasan lagi karena Allah telah memberi waktu kepadanya dengan umur yang panjang. Dalam syair dikatakan:


“Sesungguhnya seseorang itu telah berjalan selama 60 tahun menuju ke sumber air. Sungguh telah dekat ia dengan tempat sampainya (ke sumber air tersebut).”


Allah ta’ala bersumpah demi waktu untuk menunjukkan keagungan dan keutamaannya


Di sana (Al Quran) terdapat banyak ayat yang memberikan peringatan akan agungnya pokok nikmat ini selain yang telah kusebutkan sebelumnya. Cukuplah bagimu untuk tahu bahwa Allah telah bersumpah demi waktu pada kondisi (masa) yang berbeda-beda, dalam kitabNya yang mulia, dalam ayat² yang melimpah, sebagai bentuk pemberitahuan dariNya akan berharganya waktu dan peringatan akan pentingnya waktu. Maka Allah -Maha Agung urusanNya- bersumpah demi waktu malam, siang, fajar, pagi, senja, dhuha dan waktu ashar (masa). Di antara hal tersebut adalah firman Allah ta’ala:


QS. Al-Lail: Ayat 1 dan 2 (Juz 30)


وَالَّيْلِ اِذَا يَغْشٰىۙ

Demi malam apabila menutupi (cahaya siang),

وَالنَّهَارِ اِذَا تَجَلّٰىۙ

demi siang apabila terang benderang,


Wallahua’lam bisshowaab….

Bersambung….


قال الحافظ ابن كثير في «تفسيره» (١) في تفسير هذه الآية الكريمة: «أي أو ما عشتم في الدنيا أعماراً لو كنتم ممن يَنْتَفِع بالحق لانتفعتم به في مُدَّةِ عُمُرِكُم! قال قتادة: اعْلَمُوا أَنَّ طُولَ العُمُرِ حُجَّة، فنعوذُ بالله أن نُعَيَّر بطول العمر».


إعذارُ الله لمن بلَّغَه من العُمُر ستين سنة

وَرَوَى البخاري في «صحيحه» (٢)، عن أبي هريرة رضي الله عنه، قال: قال رسول الله صلَّى الله عليه وسلَّم: «أَعْذَرَ اللهُ عزَّ وجلَّ إلى امرِىءٍ أَخَّر عُمُرَه حتى بَلَّغَهُ ستين سَنَةً»، ورَوَى الإمام أحمد في «مسنده» (٣)، عن أبي هريرة أيضاً: قال: قال رسول الله صلَّى الله عليه وسلَّم: «من عَمَّرَه اللهُ تعالى ستين سَنَةً، فقد أعذَر إليه في العُمُر»، أي أزال عُذْرَهُ ولم يُبْقِ له موضعاً للاعتذار، إذْ أمْهَلَهُ طُولَ هذه المُدَّةِ المديدةِ من العُمُر.

وإِنَّ امرءاً قد سار سِتِّين حِجَّةً ... إلى مَنْهَلٍ من وِرْدِه لقريبُ

قَسَمُ الله تعالى بالزمنِ لبيانِ عِظَمِهِ وأهميته

وهناك آياتٌ كثيرةٌ فيها التنبيهُ إلى عِظَم هذا الأصل من النِّعَمِ غيرُ التي أسلَفْتُها، وحسبُكَ أن تعلمَ أنَّ الله سبحانه قد أقسَمَ بالزمن في مختلِفِ أطوارِهِ، في كتابه الكريم، في آياتٍ جَمَّة، إشعاراً منه بقيمةِ الزَّمنِ، وتنبيهاً إلى أهميته، فأقسَمَ جَلَّ شأنُهُ باللَّيلِ، والنَّهارِ، والفَجْرِ، والصُّبْح، والشَّفَقِ، والضُّحَى، والعَصْر، فمن ذلك قولُهُ تعالى: ﴿وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى، وَالنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّى﴾ (٤)،

(١) ٥: ٥٨٩ - ٥٩٠.

(٢) ١١: ٢٣٨، في كتاب الرقاق، (باب من بلَّغ ستين سَنَة فقد أعذَرَ اللهُ إليه في العُمُر).

(٣) ٢: ٤١٧.

(٤) من سورة الليل، الآيتان ١، ٢.

Minggu, 12 Juli 2026

Baru tau selama ini shalatnya tidak sah. Apa yang harus dilakukan?

 


Jawaban:

Diperinci:

  1. Jika penyebab ketidakabsahan shalat tersebut karena meninggalkan sebagian rukun atau sebagian syarat sah shalat yang sifatnya tidak rumit (mudah dipelajari, hal-hal yang jelas) maka atas shalat yang tidak sah tersebut wajib diqodho’;
  2. Jika penyebab ketidakabsahan shalat tersebut karena meninggalkan sebagian rukun atau senagian syarat sah shalat yang sifatnya rumit (butuh pendalaman ekstra dalam mempelajari, bersifat samar) maka atas shalat yang tidak sah tersebut tidak wajib diqodho’.

Kitab Bughyatul Mustarsyidin

بغية المسترشدين (١٠٣) - صلى صلاة وأخل ببعض اركانها او شروطها ثم علم الفساد لزمه قضاؤها مطلقا الا ان كان ما اخل به مما يعذر فيه الجاهل بجهله مما قرر في كتب الفقه.

Seseorang yang telah (selesai) melaksanakan shalat namun meninggalkan sebagian rukun atau syarat sahnya, kemudian ia baru menyadari bahwa shalatnya tidak sah (rusak), maka ia wajib mengulang (mengqadha) shalat tersebut secara mutlak, kecuali jika hal yang ditinggalkannya itu termasuk kategori udzur (perkara yang dimaklumi) bagi orang yang bodoh (tidak tahu atau belum mengetahuinya) sebagaimana telah dijelaskan dalam kitab-kitab fikih. 


Kitab Hasyiyah Al Jamal

حاشية الجمل (١ / ٤٥٦ - ٤٥٧) - (ولو نسي تشهد اول) وحده او مع قعوده (او قنوتا وتلبس بفرض) من قيام او سجود (فان عاد) له (بطلت) صلاته لقطعه فرضا لنفل (لا) ان عاد (ناسيا) انه فيها (او جاهلا) تحريمه فلا تبطل لعذره وهو مما يخفى على العوام ويلزمه العود عند تذكره او تعلمه - إلى أن قال - (قوله ولو نسي) أي المصلي المستقل وهو الإمام والمنفرد اه م ر اهـ ش وغير المستقل وهو المأموم لقاله هنا لا إن عاد مأموما ولقوله فيما يأتي في مقابلة هذا ولو تعمد غير المأموم تركه اهـ ح ل ومثله شوبري ومثل النسيان ما لو تركه جاهلا مشروعيته كما قاله ابن مقري تفقهاهـ سم (قوله وهو مما يخفى على العوام) ولا نظر لكونهم مقصرين بترك التعلم اهـ ح ل أي فيعذر وإن كان مخالفا للعلماء لأن هذا من الدقائق اهـ شرح م ر أي وكل ما شأنه ذلك يعذر في جهله المتفقه وغيره لأنه من دقائق العلم كما مر اهـ ق ل على الجلال.

(Jika seseorang lupa membaca tasyahud awal) saja ataupun lupa juga dengan duduk tasyahudnya, (atau lupa membaca qunut, lalu ia melakukan gerakan fardhu shalat berikutnya) berupa berdiri atau sujud, (maka jika ia kembali) untuk mengerjakan sunnah tersebut, (batal) shalatnya karena ia memutuskan perkara wajib demi melakukan perkara sunnah. (Namun tidak batal) jika ia kembali karena (lupa) bahwa ia sedang berada dalam shalat, (atau karena jahil/tidak tahu) bahwa hal itu diharamkan. Maka shalatnya tidak batal karena termasuk udzur, yaitu perkara yang samar  (rumit) bagi orang awam dan Ia wajib kembali ke posisi semula (berdiri) saat ia teringat atau mengetahui hukumnya.

— (Sampai pada perkataan penulis) —

(Perkataan penulis: Jika seseorang lupa) maksudnya adalah orang yang shalat secara terbebas/tidak terikat, yaitu imam dan orang yang shalat sendirian, Selesai (perkataan Imam ar-Ramli) dan juga orang yang shalatnya tidak terbebas/terikat, yaitu makmum karena ungkapannya yang disebutkan di sini dengan redaksi  “jika ia kembali (ke posisi sunnah tersebut) sebagai status makmum”, serta karena perkataan penulis di bagian lain sebagai pembanding masalah ini: “Dan jika orang selain makmum sengaja meninggalkannya”. Selesai (perkataan al-Halabi). Demikian pula menurut As Syaubari dan yang lainnya. Sama halnya dengan lupa yaitu jika ia meninggalkannya karena tidak tahu pensyariatannya, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu al-Muqri dalam pemahamannya.

(Perkataannya: Hal itu termasuk perkara yang samar bagi orang awam) dan tidak dianggap mereka lalai (tidak dihitung sebagai kelalaian) dengan meninggalkan kewajiban belajar. Selesai kutipan dari Hasyiyah al-Halabi. Maksudnya, mereka tetap mendapat udzur (dimaafkan) meskipun pendapatnya berbeda dengan para ulama, karena masalah ini termasuk dalam hal-hal yang rumit (dapā'iq). (Selesai kutipan dari Syarh al-Ramli). Maksudnya, setiap perkara yang sifatnya demikian, maka ketidaktahuan tentangnya akan dimaafkan, baik bagi orang berilmu maupun orang lain, karena hal itu termasuk dalam kerumitan sebagaimana yang telah dijelaskan. (Selesai kutipan dari Qalyubi)."


Kitab  Nihayatuzzain

قَالَ وَيَنْبَغِي صِحَة صلَاتهu وَإِن لم يقرب عَهده بِالْإِسْلَامِ وَلَو نَشأ قَرِيبا من الْعلمَاء لمزيد خَفَاء ذَلِك على الْعَوام

Beliau berkata: Seharusnya salatnya sah, meskipun dia sudah lama masuk Islam dan meskipun dia tumbuh besar di dekat (lingkungan) para ulama karena perkara tersebut biasanya samar bagi orang awam.


Wallahua’lam bisshowaab….


Jumat, 29 Mei 2026

Seringkali kita ‘gojlok-gojlokan’ dengan teman sebagai tanda keakraban. Bagaimana hukumnya?

 


Jawaban:

Boleh (mubah), bahkan terkadang sunnah dengan syarat tidak terjadi hal-hal berikut ini:

  1. Menyakiti hati orang yang digojlok
  2. Tidak ada unsur kedustaan, ghibah atau riya’ dan keharaman sejenisnya dalam gojlokan tersebut
  3. Tidak dilakukan secara terus-menerus karena bisa menyebabkan kerasnya hati, lalai berdzikir, dll. 


Jika ada unsur² di atas maka hukumnya Haram.


Kitab Mirqot As Su’ud At Tashdiq

مرقاة الصعود التصديق (٩٣) - (والاستهزاء) أي السخرية (بالمسلم) وهذا محرم مهما كان مؤذيا - إلى أن قال - وكل هذا يرجع إلى استحقار الغير والضحك عليه والاستهانة به وهذا إنما يحرم في حق من يتأذى به فأما من جعل نفسه مسخرة وربما فرح من أن يسخر به كانت السخرية في حقه من جملة المزاح أفاد ذلك كله الغزالي .

Menggojlok (gojlokan) kepada orang muslim hukumnya haram JIKA sampai MENYAKITI HATI…..dst…… Kesemuanya ini bermuara pada merendahkan orang lain, menertawakan dan menghinakan orang lain. Ini hanya haram bagi orang yang tersakiti karena gojlokan tersebut. Adapun orang yang menjadikan dirinya sendiri sebagai bahan gojlokan dan seringkali dia JUSTRU SENANG untuk digojlok, maka gojlokan baginya termasuk candaan (senda gurau saja). Semua faidah ini disampaikan oleh Imam Al-Ghazali. 


Kitab At Thoriqoh Muhammadiyah

الطريقة المحمدية (١٦٣-١٦٤) - (والخامس) الكلام فيما لا ينبغي مثل حكاية أسفارك وما رأيت فيها من جبال وأنهار وأطعمة وثياب ومنه السؤال عما لا يهم وهذا إذا خلا عن الكذب والغيبة والرياء ونحوها من المحرمات لا يحرم بل قد يستحب إذا قارنه نية صالحة - إلى أن قال - وكذا يستحب المزاح في هذه المواضع نعم بهذه النيات يخرج عن حد ما لا يعني فكل ما لا يعني يستحب تركه.

Yang kelima, ucapan tentang sesuatu yang tidak begitu penting seperti menceritakan perjalananmu (safarmu) dan hal-hal yang kau lihat dalam perjalananmu seperti gunung, sungai, makanan dan pakaian. Termasuk kategori ini adalah bertanya tentang sesuatu yang tidak penting. Ini apabila terbebas dari kedustaan, ghibah (menggunjing), riya, dan keharaman sejenisnya maka hukumnya tidak haram. Bahkan, terkadang dianjurkan (sunah) jika dibarengi dengan niat yang baik …..dst……. Begitu pula disunnahkan bercanda dalam kondisi-kondisi ini. Benar, dengan adanya niat (baik) ini maka ucapan keluar dari batasan sesuatu yang tidak bermanfaat karena segala sesuatu yang tidak bermanfaat disunahkan untuk ditinggalkan. 


Kitab Al Adzkar An Nawawi

الأذكار للنووي (٥٢٦) - وروينا في كتاب الترمذي عن ابن عباس رضي الله عنهما عن النبي (صلى الله عليه وسلم) قال : " لا تمار أخاك، ولا تمازحه، ولا تعده موعدا فتخلفه ".قال العلماء : المزاح المنهي عنه، هو الذي فيه إفراط ويداوم عليه، فإنه يورث الضحك وقسوة القلب، ويشغل عن ذكر الله تعالى والفكر في مهمات الدين، ويؤول في كثير من الأوقات إلى الإيذاء، ويورث الأحقاد، ويسقط المهابة والوقار. فأما ما سلم من هذه الأمور فهو المباح.

Dan kami meriwayatkan dalam kitab At-Tirmidzi dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Janganlah kamu bertengkar dengan saudaramu, jangan bercanda (gojlokan) dengannya, dan jangan membuat janji kepadanya lalu kamu mengingkarinya.” Para ulama’ berkata: bercanda (gojlokan) yang dilarang adalah bercanda yang berlebihan (melampaui batas) dan dilakukan terus-menerus karena hal tersebut dapat menyebabkan banyak tertawa dan kerasnya hati, melalaikan dari berzikir kepada Allah Ta'ala dan memikirkan perkara penting dalam agama, seringkali mengakibatkan idza’ (menyakiti orang lain), menimbulkan dendam dalam hati, menjatuhkan wibawa dan kehormatan. Adapun bercanda yang selamat dari hal-hal negatif di atas, maka hukumnya mubah (boleh).


Wallahua’lam bisshowaab….

Rabu, 20 Mei 2026

Hukum mendahulukan orang lain (alias mengalah) dalam perkara ibadah adalah MAKRUH. Apakah hukum ini berlaku apabila kita mendahulukan guru kita dalam urusan ibadah?


 

Jawaban:

Mendahulukan guru kita dalam urusan ibadah hukumnya tidak makruh karena mengandung maslahat umum. Silahkan disimak redaksi berikut ini dalam kasus menempati shaf awal dalam shalat:


Kitab Nihayatul Muhtaj Syarh Al Minhaj

نهاية المحتاج - ويحرم أن يقيم أحدا ليجلس مكانه بل يقول تفسحوا للأمر به ، فإن قام الجالس : باختياره وأجلس غيره فيه لم يكره للجالس ولا لمن قام منه إن انتقل إلى مكان أقرب إلى الإمام أو مثله ، وإلا كره إن لم يكن عذر لأن الإيثار بالقرب مكروه ، بخلافه في حظوظ النفس فإنه مطلوب { ويؤثرون على أنفسهم } ولو آثر شخصا أحق بذلك المحل منه لكونه قارئا أو عالما يلي الإمام لعلمه أو يرد عليه إذا غلط فهل يكره أيضا أو لا لكونه مصلحة عامة ؟ الأوجه الثاني

Haram hukumnya seseorang menyuruh orang lain berdiri (dari tempat duduknya) untuk kemudian menempatinya, sebaliknya Dia harus berkata: “berikanlah tempat (permisi, geser sedikit ya)” karena ada perintah tersebut. Apabila orang yang duduk tadi berdiri dengan sukarela dan mempersilahkan orang lain untuk menduduki tempatnya maka tidak makruh bagi keduanya (tidak makruh bagi orang yang duduk dan orang yang berdiri) jika memang orang yang berdiri tadi berpindah lebih dekat dengan imam atau ke tempat yang setara. Jika tidak demikian (tidak lebih dekat dengan imam atau tidak setara dengan posisi awal) maka makruh hukumnya berpindah jika tidak ada udzur karena itsar (mendahulukan orang lain) dalam urusan ibadah (mendekatkan diri kepada Allah) itu hukumnya makruh. Berbeda halnya dalam urusan kesenangan pribadi (dan urusan duniawi) maka itsar dianjurkan sebagaimana firman Allah: “Dan mereka mengutamakan (orang lain) atas diri mereka sendiri.” Lalu, bagaimana jika ia mendahulukan orang lain yang lebih berhak atas tempat tersebut daripada dirinya sendiri—misalnya karena orang itu adalah seorang qari' (ahli membaca Al-Qur'an) atau seorang ulama yang berada di belakang imam bertujuan untuk mengajarinya atau untuk membetulkan bacaan imam jika terjadi kekeliruan—apakah hal ini tetap dimakruhkan, ataukah tidak karena mengandung kemaslahatan umum? Pendapat yang paling kuat (al-awjah) adalah pendapat yang kedua (yaitu tidak dimakruhkan)."


Wallahua’lam bisshowaab….