Jumat, 29 Mei 2026

Seringkali kita ‘gojlok-gojlokan’ dengan teman sebagai tanda keakraban. Bagaimana hukumnya?

 


Jawaban:

Boleh (mubah), bahkan terkadang sunnah dengan syarat tidak terjadi hal-hal berikut ini:

  1. Menyakiti hati orang yang digojlok
  2. Tidak ada unsur kedustaan, ghibah atau riya’ dan keharaman sejenisnya dalam gojlokan tersebut
  3. Tidak dilakukan secara terus-menerus karena bisa menyebabkan kerasnya hati, lalai berdzikir, dll. 


Jika ada unsur² di atas maka hukumnya Haram.


Kitab Mirqot As Su’ud At Tashdiq

مرقاة الصعود التصديق (٩٣) - (والاستهزاء) أي السخرية (بالمسلم) وهذا محرم مهما كان مؤذيا - إلى أن قال - وكل هذا يرجع إلى استحقار الغير والضحك عليه والاستهانة به وهذا إنما يحرم في حق من يتأذى به فأما من جعل نفسه مسخرة وربما فرح من أن يسخر به كانت السخرية في حقه من جملة المزاح أفاد ذلك كله الغزالي .

Menggojlok (gojlokan) kepada orang muslim hukumnya haram JIKA sampai MENYAKITI HATI…..dst…… Kesemuanya ini bermuara pada merendahkan orang lain, menertawakan dan menghinakan orang lain. Ini hanya haram bagi orang yang tersakiti karena gojlokan tersebut. Adapun orang yang menjadikan dirinya sendiri sebagai bahan gojlokan dan seringkali dia JUSTRU SENANG untuk digojlok, maka gojlokan baginya termasuk candaan (senda gurau saja). Semua faidah ini disampaikan oleh Imam Al-Ghazali. 


Kitab At Thoriqoh Muhammadiyah

الطريقة المحمدية (١٦٣-١٦٤) - (والخامس) الكلام فيما لا ينبغي مثل حكاية أسفارك وما رأيت فيها من جبال وأنهار وأطعمة وثياب ومنه السؤال عما لا يهم وهذا إذا خلا عن الكذب والغيبة والرياء ونحوها من المحرمات لا يحرم بل قد يستحب إذا قارنه نية صالحة - إلى أن قال - وكذا يستحب المزاح في هذه المواضع نعم بهذه النيات يخرج عن حد ما لا يعني فكل ما لا يعني يستحب تركه.

Yang kelima, ucapan tentang sesuatu yang tidak begitu penting seperti menceritakan perjalananmu (safarmu) dan hal-hal yang kau lihat dalam perjalananmu seperti gunung, sungai, makanan dan pakaian. Termasuk kategori ini adalah bertanya tentang sesuatu yang tidak penting. Ini apabila terbebas dari kedustaan, ghibah (menggunjing), riya, dan keharaman sejenisnya maka hukumnya tidak haram. Bahkan, terkadang dianjurkan (sunah) jika dibarengi dengan niat yang baik …..dst……. Begitu pula disunnahkan bercanda dalam kondisi-kondisi ini. Benar, dengan adanya niat (baik) ini maka ucapan keluar dari batasan sesuatu yang tidak bermanfaat karena segala sesuatu yang tidak bermanfaat disunahkan untuk ditinggalkan. 


Kitab Al Adzkar An Nawawi

الأذكار للنووي (٥٢٦) - وروينا في كتاب الترمذي عن ابن عباس رضي الله عنهما عن النبي (صلى الله عليه وسلم) قال : " لا تمار أخاك، ولا تمازحه، ولا تعده موعدا فتخلفه ".قال العلماء : المزاح المنهي عنه، هو الذي فيه إفراط ويداوم عليه، فإنه يورث الضحك وقسوة القلب، ويشغل عن ذكر الله تعالى والفكر في مهمات الدين، ويؤول في كثير من الأوقات إلى الإيذاء، ويورث الأحقاد، ويسقط المهابة والوقار. فأما ما سلم من هذه الأمور فهو المباح.

Dan kami meriwayatkan dalam kitab At-Tirmidzi dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Janganlah kamu bertengkar dengan saudaramu, jangan bercanda (gojlokan) dengannya, dan jangan membuat janji kepadanya lalu kamu mengingkarinya.” Para ulama’ berkata: bercanda (gojlokan) yang dilarang adalah bercanda yang berlebihan (melampaui batas) dan dilakukan terus-menerus karena hal tersebut dapat menyebabkan banyak tertawa dan kerasnya hati, melalaikan dari berzikir kepada Allah Ta'ala dan memikirkan perkara penting dalam agama, seringkali mengakibatkan idza’ (menyakiti orang lain), menimbulkan dendam dalam hati, menjatuhkan wibawa dan kehormatan. Adapun bercanda yang selamat dari hal-hal negatif di atas, maka hukumnya mubah (boleh).


Wallahua’lam bisshowaab….

Rabu, 20 Mei 2026

Hukum mendahulukan orang lain (alias mengalah) dalam perkara ibadah adalah MAKRUH. Apakah hukum ini berlaku apabila kita mendahulukan guru kita dalam urusan ibadah?


 

Jawaban:

Mendahulukan guru kita dalam urusan ibadah hukumnya tidak makruh karena mengandung maslahat umum. Silahkan disimak redaksi berikut ini dalam kasus menempati shaf awal dalam shalat:


Kitab Nihayatul Muhtaj Syarh Al Minhaj

نهاية المحتاج - ويحرم أن يقيم أحدا ليجلس مكانه بل يقول تفسحوا للأمر به ، فإن قام الجالس : باختياره وأجلس غيره فيه لم يكره للجالس ولا لمن قام منه إن انتقل إلى مكان أقرب إلى الإمام أو مثله ، وإلا كره إن لم يكن عذر لأن الإيثار بالقرب مكروه ، بخلافه في حظوظ النفس فإنه مطلوب { ويؤثرون على أنفسهم } ولو آثر شخصا أحق بذلك المحل منه لكونه قارئا أو عالما يلي الإمام لعلمه أو يرد عليه إذا غلط فهل يكره أيضا أو لا لكونه مصلحة عامة ؟ الأوجه الثاني

Haram hukumnya seseorang menyuruh orang lain berdiri (dari tempat duduknya) untuk kemudian menempatinya, sebaliknya Dia harus berkata: “berikanlah tempat (permisi, geser sedikit ya)” karena ada perintah tersebut. Apabila orang yang duduk tadi berdiri dengan sukarela dan mempersilahkan orang lain untuk menduduki tempatnya maka tidak makruh bagi keduanya (tidak makruh bagi orang yang duduk dan orang yang berdiri) jika memang orang yang berdiri tadi berpindah lebih dekat dengan imam atau ke tempat yang setara. Jika tidak demikian (tidak lebih dekat dengan imam atau tidak setara dengan posisi awal) maka makruh hukumnya berpindah jika tidak ada udzur karena itsar (mendahulukan orang lain) dalam urusan ibadah (mendekatkan diri kepada Allah) itu hukumnya makruh. Berbeda halnya dalam urusan kesenangan pribadi (dan urusan duniawi) maka itsar dianjurkan sebagaimana firman Allah: “Dan mereka mengutamakan (orang lain) atas diri mereka sendiri.” Lalu, bagaimana jika ia mendahulukan orang lain yang lebih berhak atas tempat tersebut daripada dirinya sendiri—misalnya karena orang itu adalah seorang qari' (ahli membaca Al-Qur'an) atau seorang ulama yang berada di belakang imam bertujuan untuk mengajarinya atau untuk membetulkan bacaan imam jika terjadi kekeliruan—apakah hal ini tetap dimakruhkan, ataukah tidak karena mengandung kemaslahatan umum? Pendapat yang paling kuat (al-awjah) adalah pendapat yang kedua (yaitu tidak dimakruhkan)."


Wallahua’lam bisshowaab….

Kamis, 12 Februari 2026

Ngaji Kitab Qimatuzzaman ‘Indal Ulama’ (Berharganya Waktu menurut Para Ulama’) Seri Ke - 4

 

Maha suci Allah telah berfirman:


QS. Al-Isra': Ayat 12 (Juz 15)

وَجَعَلْنَا الَّيْلَ وَالنَّهَارَ اٰيَتَيْنِ فَمَحَوْنَآ اٰيَةَ الَّيْلِ وَجَعَلْنَآ اٰيَةَ النَّهَارِ مُبْصِرَةً لِّتَبْتَغُوْا فَضْلًا مِّنْ رَّبِّكُمْ وَلِتَعْلَمُوْا عَدَدَ السِّنِيْنَ وَالْحِسَابَۗ وَكُلَّ شَيْءٍ فَصَّلْنٰهُ تَفْصِيْلًا

Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda (kebesaran Kami). Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang benderang agar kamu (dapat) mencari karunia dari Tuhanmu dan mengetahui bilangan tahun serta perhitungan (waktu). Segala sesuatu telah Kami terangkan secara terperinci.


QS. Fushshilat: Ayat 37 (Juz 24)

وَمِنْ اٰيٰتِهِ الَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُۗ  لَا تَسْجُدُوْا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوْا لِلّٰهِ الَّذِيْ خَلَقَهُنَّ اِنْ كُنْتُمْ اِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ

Sebagian dari tanda-tanda (kebesaran)-Nya adalah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah bersujud pada matahari dan jangan (pula) pada bulan. Bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya jika kamu hanya menyembah kepada-Nya.


Allah ta’ala memuji diriNya sendiri bahwa Dia adalah penguasa waktu, penguasa tempat dan penguasa segala sesuatu yang menempati keduanya berupa hal-hal yang bersifat waktu dan tempat. Allah berfirman:


QS. Al-An'am: Ayat 13 (Juz 7)

وَلَهٗ مَا سَكَنَ فِى الَّيْلِ وَالنَّهَارِۗ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

Milik-Nyalah segala sesuatu yang ada pada malam dan siang hari. Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.


Celaan Allah kepada Orang Kafir karena Mereka Menyia-nyiakan Umur Mereka


Allah ta’ala berfirman yang ditujukan pada orang-orang kafir seraya mencela mereka karena telah menyia-nyiakan umur mereka dan memelihara diri mereka dalam kekafiran. Mereka tidak keluar dari kekafiran menuju keimanan padahal disertai umur yang panjang. Allah ta’ala telah memberi mereka waktu yang panjang, umur yang lapang, kemudian Allah berfirman: 


QS. Fathir: Ayat 37 (Juz 22)


اَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَّا يَتَذَكَّرُ فِيْهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاۤءَكُمُ النَّذِيْرُۗ فَذُوْقُوْا فَمَا لِلظّٰلِمِيْنَ مِنْ نَّصِيْرٍ

Bukankah Kami telah memanjangkan umurmu dalam masa (yang cukup) untuk dapat berpikir bagi orang yang mau berpikir. (Bukankah pula) telah datang kepadamu seorang pemberi peringatan? Maka, rasakanlah (azab Kami). Bagi orang-orang zalim tidak ada seorang penolong pun.” 


Allah ta’ala menjadikan umur panjang sebagai sebab yang mewajibkan untuk berpikir, merenung, serta menjadi ladang keimanan dan pengambilan pelajaran. Allah menjadikan umur - tempat manusia hidup di dalamnya - sebagai tuntutan yang memberatkan mereka (saat bersaksi di akhirat) sebagaimana Allah menjadikan adanya risalah (wahyu) dan peringatan (dari Rasul) juga sebagai tuntutan yang memberatkan mereka (saat bersaksi di akhirat). 


Wallahua’lam bisshowaab….

Bersambung….


وقال سبحانه: ﴿وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ آيَتَيْنِ، فَمَحَوْنَا آيَةَ اللَّيْلِ وَجَعَلْنَا آيَةَ النَّهَارِ مُبْصِرَةً، لِتَبْتَغُوا فَضْلًا مِّن رَّبِّكُمْ، وَلِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ، وَكُلَّ شَيْءٍ فَصَّلْنَاهُ تَفْصِيلًا﴾⁽¹⁾.

وقال سبحانه: ﴿وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ، لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ، وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ﴾⁽²⁾.

وتمدَّح سبحانه بأنه مالكُ الزمانِ والمكان وما يَحُلُّ فيهما من زمانياتٍ ومكانياتٍ، فقال: ﴿وَلَهُ مَا سَكَنَ فِي اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ﴾⁽³⁾.

تأنيبُ اللهِ للكُفَّار إذ أضاعوا أعمارهم

وقال تعالى مخاطباً الكفار ومؤنِّباً لهم، إذ أضاعوا أعمارهم، واستبقَوْا أنفسَهم فيها على الكفر! ولم يَخرجوا — مع امتداد العمر — من الكفر إلى الإيمان، وقد آتاهم الله الزمانَ المديد، والعمرَ العريض، فقال سبحانه: ﴿أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُم مَّا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَن تَذَكَّرَ، وَجَاءكُمُ النَّذِيرُ، فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِن نَّصِيرٍ﴾⁽⁴⁾.

فجعلَ سبحانه (التعمير) مُوجِباً للتذكر والاستبصار، ومَيْداناً للإيمان والاستذكار، وأقام (العُمر) الذي هو الزمنُ يحياه الإنسان: حُجَّةً على الإنسان، كما أقام وجودَ الرسالةِ والنِّذارَةِ حُجَّةً عليه أيضاً.

ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ

(١) من سورة الإسراء، الآية ١٢.

(٢) من سورة فُصِّلَتْ، الآية ٣٧.

(٣) من سورة الأنعام، الآية ١٣.

(٤) من سورة فاطر، الآية ٣٧.

Sabtu, 17 Januari 2026

Ngaji Kitab Qimatuzzaman ‘Indal Ulama’ (Berharganya Waktu menurut Para Ulama’) Seri Ke - 3

 


Di antara pokok-pokok nikmat, bahkan termasuk salah satu yang paling mulia dan paling mahal adalah nikmat waktu. Aku kumpulkan lembaran-lembaran ini untuk membicarakan tentang nilainya (berharganya waktu), khususnya di sisi para penuntut ilmu dan ahli ilmu. 


Waktu adalah umur kehidupan, tempat keberadaan manusia, tempat bernaung dan menetapnya manusia, tempat manusia memberi dan mengambil manfaat. Al Qur’an telah memberikan isyarat tentang keagungan pokok nikmat ini atas pokok-pokok nikmat (yang lain) dan telah menerangkan ketinggian derajatnya atas nikmat yang lainnya. Ada banyak ayat² (Al Qur’an) yang menunjukkan berharganya waktu, tingginya derajat waktu dan besarnya pengaruh waktu.


Sebagian Ayat yang Mengingatkan tentang nikmat waktu


Aku membatasi dengan sebagian ayat yang 

mulia tentang kedudukan waktu. Allah ta’ala berfirman seraya menganugerahkan kepada hamba-hambaNya dengan nikmat yang agung ini:


QS. Ibrahim: Ayat 32 (Juz 13)

اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ وَاَنْزَلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً فَاَخْرَجَ بِهٖ مِنَ الثَّمَرٰتِ رِزْقًا لَّكُمْۚ وَسَخَّرَ لَكُمُ الْفُلْكَ لِتَجْرِيَ فِى الْبَحْرِ بِاَمْرِهٖۚ وَسَخَّرَ لَكُمُ الْاَنْهٰرَ

Allahlah yang telah menciptakan langit dan bumi, menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dengan (air hujan) itu Dia mengeluarkan berbagai buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Dia juga telah menundukkan kapal bagimu agar berlayar di lautan dengan kehendak-Nya. Dia pun telah menundukkan sungai-sungai bagimu.


QS. Ibrahim: Ayat 33 (Juz 13)

وَسَخَّرَ لَكُمُ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ دَاۤىِٕبَيْنِۚ وَسَخَّرَ لَكُمُ الَّيْلَ وَالنَّهَارَۚ

Dia telah menundukkan bagimu matahari dan bulan yang terus-menerus beredar (dalam orbitnya) dan telah pula menundukkan bagimu malam dan siang.


QS. Ibrahim: Ayat 34 (Juz 13)

وَاٰتٰىكُمْ مِّنْ كُلِّ مَا سَاَلْتُمُوْهُۗ وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَاۗ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَظَلُوْمٌ كَفَّارٌࣖ

Dia telah menganugerahkan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu benar-benar sangat zalim lagi sangat kufur.


Maha suci Allah telah menganugerahkan di antara kemuliaan nikmat-nikmatNya dengan nikmat siang dan malam. Keduanya (siang & malam) adalah waktu yang kita bicarakan dan kita berbicara di dalamnya serta dengannya, alam semesta yang besar ini melaluinya dari awal permulaannya sampai akhir kesudahannya. 


Allah ta’ala berfirman untuk mengokohkan karunia yang tinggi ini dengan ayat kedua:


QS. An-Nahl: Ayat 12 (Juz 14)

وَسَخَّرَ لَكُمُ الَّيْلَ وَالنَّهَارَۙ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَۗ وَالنُّجُوْمُ مُسَخَّرٰتٌۢ بِاَمْرِهٖۗ اِنَّ فِي ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّعْقِلُوْنَۙ

Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu, dan bintang-bintang dikendalikan dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang mengerti.


Allah ta’ala memberi isyarat di akhir ayat bahwa di dalam nikmat-nikmat tersebut terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) yang sampai kepada orang-orang yang memahami (menggunakan akalnya) dan merenungi. 


Wallahua’lam bisshowaab….

Bersambung….


فالزمن هو عمر الحياة وميدان وجود الإنسان، وساحة ظله وبقائه ونفعه وانتفاعه. وقد أشار القرآن الكريم إلى عظم هذا الأصل في أصول النعم، وألمح إلى علو مقداره على غيره، فجاءت آيات كثيرة ترشد إلى قيمة الزمن، ورفيع قدره وكبير أثره.

بعض الآيات المذكرة بنعمة الزمن

وأجتزىء هنا ببعض الآيات الكريمة في هذا المقام، قال تعالى ممتنا على عباده بهذه النعمة الكبرى: ﴿الله الذي خلق السموات والأرض، وأنزل من السماء ماء فأخرج به من الثمرات رزقا لكم، وسخر لكم الفلك لتجري في البحر بأمره وسخر لكم الأنهار. وسخر لكم الشمس والقمر دائبين، وسخر لكم الليل والنهار. وآتاكم من كل ما سألتموه، وإن تعدوا نعمة الله لا تحصوها إن الإنسان لظلوم كفار﴾ 

فامتن سبحانه في جلائل نعمه بنعمة الليل والنهار، وهما الزمن الذي نتحدث عنه ونتحدث فيه، ويمر به هذا العالم الكبير من بداية بدايته، إلى نهاية نهايته.

وقال تعالى مؤكدا هذه المنة العليا في آية ثانية: ﴿وسخر لكم الليل والنهار والشمس والقمر والنجوم مسخرات بأمره إن في ذلك لآيات لقوم يعقلون﴾ فأشار في ختام الآية إلى أن تلك النعم فيها آيات بالغة عند الذين يعقلون و يتدبرون. 


Sabtu, 10 Januari 2026

Ngaji Kitab Qimatuzzaman ‘Indal Ulama’ (Berharganya Waktu Menurut Para Ulama’) Seri Ke-2

 


Nikmat itu memiliki pokok-pokok (akar-akar) dan cabang-cabang 


Sesungguhnya, nikmat itu memiliki pokok-pokok dan cabang-cabang. Di antara cabang-cabang nikmat misalnya: keluasan ilmu, kekuatan fisik yang ekstra, kelapangan harta, mampu menjaga ibadah-ibadah sunnah seperti qiyamullail, memperbanyak membaca Al-Qur’an, dan berdzikir pada Allah ta’ala. Cabang-cabang nikmat yang lain misalnya mampu menjaga sunnah-sunnah fitrah atas wajah, kedua tangan dan anggota-anggota tubuh yang lain (misal memotong kuku, mencabut bulu ketiak, dll) kemudian mampu menjaga amal-amal (perbuatan) sunnah seperti memakai wewangian bagi laki-laki ketika ada perkumpulan, bersalaman ketika ada pertemuan, masuk masjid dengan kaki kanan, keluar dengan kaki kiri, menghilangkan sesuatu yang mengganggu di jalan, dan lain sebagainya berupa adab-adab, kebiasaan-kebiasaan yang baik,  perkara-perkara yang disunnahkan untuk dilakukan dan sebagian perkara wajib. Alangkah agungnya cabang-cabang nikmat tersebut bagi orang yang mengenalnya (‘arifin).


Pokok-pokok nikmat (akar-akar nikmat).


Adapun pokok-pokok nikmat maka itu juga banyak, tidak bisa dihitung. Awal pokok nikmat adalah iman pada Allah ta’ala dan iman pada segala sesuatu yang datang dariNya serta mengamalkan (berbuat) sesuai dengan konsekuensi iman tersebut atas hal-hal yang diwajibkan dan diperintahkan olehNya. 


Di antara pokok-pokok nikmat juga adalah kesehatan jasmani, rohani dan spiritual meliputi sehat pendengaran, pengelihatan, sehat akal (dan  hati) serta kesehatan anggota badan. Kesehatan jasmani, rohani dan spiritual adalah inti/poros pergerakan manusia dan unsur utama yang diambil manfaatnya dalam mewujudkan eksistensi mereka. 


Di antara pokok-pokok nikmat juga adalah nikmat ilmu. Ilmu adalah nikmat yang besar yang menentukan ketinggian martabat manusia dan kebahagiaan manusia baik kebahagiaan duniawi maupun ukhrawi. Maka ilmu adalah nikmat yang agung, bagaimanapun keadaannya. Maka mencari ilmu itu nikmat, mengambil manfaat dari ilmu itu nikmat, berbagi ilmu itu juga nikmat, mengabadikan dan mewariskannya untuk  generasi-generasi setelahnya itu juga nikmat, menyebarkan ilmu di tengah manusia itu nikmat, dan begitulah seterusnya. Di sana terdapat banyak contoh pokok-pokok nikmat. Aku tidak akan memperpanjang penyebutannya karena menjaga berharganya waktu.


Wallahua’lam bisshowaab….



للنعم أصول وفروع

وإنَّ للنعم أصولاً وفروعاً، فمن فروع النعم مثلاً: البَسْطَةُ في العلم والجسم والمال، والمُحافظَةُ على نوافل العبادات، مثلُ قيام الليل والإكثار من تلاوة القرآن، وذكر الله تعالى، والمُحافظَةُ على سُنَنِ الفِطرة في الوجه واليدين والأطراف، وسُنَنِ الأعمال مثل التطيُّب للرجال عند الاجتماع، والمُصافحةِ عند اللقاء، ودخول المسجد باليُمنى، والخروج منه باليُسرى، وإماطة الأذى عن الطريق، وما إلى ذلك من الآداب والسنن والمستحبات وبعض الواجبات، فكل أولئك من فروع النعم، وما أجلَّها من فروع عند عارفيها.

أصولُ النِّعَم

وأما أصولُ النِّعَمِ فكثيرة أيضاً لا تُحصى، وأوَّلُ أصول النعم: الإيمانُ بالله تعالى وبما جاء من عنده، والعملُ بمقتضى ذلك على ما أوجبهُ الله تعالى وأمر سبحانه.

ومن أصول النعم أيضاً: نِعْمةُ الصحةِ والعافية، التي منها سلامةُ السمع والبصر والفؤاد والجوارح، وهي مِحْوَرُ حركة الإنسان وقوامُ استفادته من وجوده.

ومن أصول النعم أيضاً: نعمةُ العلم، فهي نعمةٌ كبرى يتوقَّفُ عليها رقيُّ الإنسانية وسعادتها الدنيوية والأخروية جميعاً، فالعلمُ نعمةٌ جُلَّى، كيفما كان، فتحصيله نعمة، والانتفاع به نعمة، والنفعُ به نعمة، وتخليدُهُ ونقلهُ للأجيال المقبلةِ نعمة، ونشرهُ في الناس نعمة، وهكذا.

وهناك أمثلة كثيرة لأصول النعم، لا أُطيلُ بذكرها مراعاةً لقيمة الزمن.

Sabtu, 03 Januari 2026

Ngaji Kitab Qimatuzzaman ‘Indal Ulama’ (Berharganya Waktu Menurut Para Ulama’) Seri Ke-1



Nilai waktu (berharganya waktu)


Dibalik judul yang ringkas ini, tersimpan berbagai makna dan konteks yang di dalamnya saling tarik menarik untuk dibahas. Waktu memiliki nilai tersendiri di mata para filosof, nilainya pun berbeda di mata para pedagang, berbeda pula menurut petani, pekerja, tentara, politisi, pemuda, orang tua, penuntut ilmu dan ahli ilmu. 


Aku mengkhususkan pembahasanku hanya pada nilai waktu (berharganya waktu) bagi para penuntut ilmu dan ahli ilmu. Hal ini aku lakukan karena berharap bisa memotivasi semangat pemuda-pemuda kita, para penuntut ilmu yang pada hari-hari ini semangatnya turun, niatnya kendor, era di mana jarang ditemukan pembelajar yang sangat “bernafsu” terhadap ilmu sehingga kepandaian pun lenyap dan yang mendominasi adalah kemalasan dan kelesuan. Sebagai buah dari hal tersebut, muncul kelemahan dan kemunduran dalam barisan para ahli ilmu dan jejak-jejak mereka. 


Maka aku katakan: sesungguhnya nikmat² Allah ta’ala atas hamba²Nya itu banyak, tidak dapat dihitung. Tidak mungkin bagi manusia untuk menghitungnya dan menjangkaunya secara hakikat. Hal itu disebabkan karena sangat banyaknya nikmat Allah, tidak ada henti-hentinya, mudah memperolehnya, berkesinambungan anugerah Allah akan nikmat dan berbagai macam persepsi manusia terhadap nikmat. Maha benar Allah yang Maha Agung: 


QS. Ibrahim: Ayat 34


وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَاۗ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَظَلُوْمٌ كَفَّارٌࣖ

wa in ta‘uddû ni‘matallâhi lâ tuḫshûhâ, innal-insâna ladhalûmung kaffâr


Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu benar-benar sangat zalim lagi sangat kufur.


Wallahua’lam bisshowaab……



___________________________________________________


كتاب قيمة الزمن عند العلماء

قيمة الزمن

لهذا العنوان الصغير أطراف كثيرة وكبيرة من المعاني والمواضيع، تتجاذب الكلام فيها، فللزمن قيمة عند الفلاسفة غير قيمته عند التجار، وغيرها عند الزراع، وغيرها عند الصنَّاع، وغيرها عند العسكريين، وغيرها عند السياسيين، وغيرها عند الشباب، وغيرها عند الشيوخ، وغيرها عند طلبة العلم وأهل العلم.

وأخص بحديثي (قيمة الزمن) عند طلبة العلم وأهل العلم فحسب، رجاءً أن يكون ذلك حافزاً لهمم أصحاب العزائم من شبابنا طلاب العلم، في هذه الأيام التي فترت فيها هِمَمُ الطالبين، وتقاعست غايات المُجِدِّين، ونَدَرَ فيها وجود الطلبة المحترقين بالعلم، فمات النبوغ وساد الكسل والخمول، وبرز من جراء ذلك الضعف والتأخر في صفوف أهل العلم وآثارهم، فأقول:

إنَّ نعم الله تعالى على عِبادِهِ كثيرة لا تُحصَى، ولا يمكن للبشر أن يُحصوها أو يُدركوها على حقيقتها، وذلك لكثرتها، واستمرارها، ويُسْرِها، وتتابع إنعام الله بها، وتفاوت مدارك الناس لها، وصَدَقَ الله العظيم إذ يقول: {وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ الْإِنسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ} (1).

(1) من سورة إبراهيم، الآية ٣٤.