Jawaban:
Boleh (mubah), bahkan terkadang sunnah dengan syarat tidak terjadi hal-hal berikut ini:
- Menyakiti hati orang yang digojlok
- Tidak ada unsur kedustaan, ghibah atau riya’ dan keharaman sejenisnya dalam gojlokan tersebut
- Tidak dilakukan secara terus-menerus karena bisa menyebabkan kerasnya hati, lalai berdzikir, dll.
Jika ada unsur² di atas maka hukumnya Haram.
Kitab Mirqot As Su’ud At Tashdiq
مرقاة الصعود التصديق (٩٣) - (والاستهزاء) أي السخرية (بالمسلم) وهذا محرم مهما كان مؤذيا - إلى أن قال - وكل هذا يرجع إلى استحقار الغير والضحك عليه والاستهانة به وهذا إنما يحرم في حق من يتأذى به فأما من جعل نفسه مسخرة وربما فرح من أن يسخر به كانت السخرية في حقه من جملة المزاح أفاد ذلك كله الغزالي .
Menggojlok (gojlokan) kepada orang muslim hukumnya haram JIKA sampai MENYAKITI HATI…..dst…… Kesemuanya ini bermuara pada merendahkan orang lain, menertawakan dan menghinakan orang lain. Ini hanya haram bagi orang yang tersakiti karena gojlokan tersebut. Adapun orang yang menjadikan dirinya sendiri sebagai bahan gojlokan dan seringkali dia JUSTRU SENANG untuk digojlok, maka gojlokan baginya termasuk candaan (senda gurau saja). Semua faidah ini disampaikan oleh Imam Al-Ghazali.
Kitab At Thoriqoh Muhammadiyah
الطريقة المحمدية (١٦٣-١٦٤) - (والخامس) الكلام فيما لا ينبغي مثل حكاية أسفارك وما رأيت فيها من جبال وأنهار وأطعمة وثياب ومنه السؤال عما لا يهم وهذا إذا خلا عن الكذب والغيبة والرياء ونحوها من المحرمات لا يحرم بل قد يستحب إذا قارنه نية صالحة - إلى أن قال - وكذا يستحب المزاح في هذه المواضع نعم بهذه النيات يخرج عن حد ما لا يعني فكل ما لا يعني يستحب تركه.
Yang kelima, ucapan tentang sesuatu yang tidak begitu penting seperti menceritakan perjalananmu (safarmu) dan hal-hal yang kau lihat dalam perjalananmu seperti gunung, sungai, makanan dan pakaian. Termasuk kategori ini adalah bertanya tentang sesuatu yang tidak penting. Ini apabila terbebas dari kedustaan, ghibah (menggunjing), riya, dan keharaman sejenisnya maka hukumnya tidak haram. Bahkan, terkadang dianjurkan (sunah) jika dibarengi dengan niat yang baik …..dst……. Begitu pula disunnahkan bercanda dalam kondisi-kondisi ini. Benar, dengan adanya niat (baik) ini maka ucapan keluar dari batasan sesuatu yang tidak bermanfaat karena segala sesuatu yang tidak bermanfaat disunahkan untuk ditinggalkan.
Kitab Al Adzkar An Nawawi
الأذكار للنووي (٥٢٦) - وروينا في كتاب الترمذي عن ابن عباس رضي الله عنهما عن النبي (صلى الله عليه وسلم) قال : " لا تمار أخاك، ولا تمازحه، ولا تعده موعدا فتخلفه ".قال العلماء : المزاح المنهي عنه، هو الذي فيه إفراط ويداوم عليه، فإنه يورث الضحك وقسوة القلب، ويشغل عن ذكر الله تعالى والفكر في مهمات الدين، ويؤول في كثير من الأوقات إلى الإيذاء، ويورث الأحقاد، ويسقط المهابة والوقار. فأما ما سلم من هذه الأمور فهو المباح.
Dan kami meriwayatkan dalam kitab At-Tirmidzi dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Janganlah kamu bertengkar dengan saudaramu, jangan bercanda (gojlokan) dengannya, dan jangan membuat janji kepadanya lalu kamu mengingkarinya.” Para ulama’ berkata: bercanda (gojlokan) yang dilarang adalah bercanda yang berlebihan (melampaui batas) dan dilakukan terus-menerus karena hal tersebut dapat menyebabkan banyak tertawa dan kerasnya hati, melalaikan dari berzikir kepada Allah Ta'ala dan memikirkan perkara penting dalam agama, seringkali mengakibatkan idza’ (menyakiti orang lain), menimbulkan dendam dalam hati, menjatuhkan wibawa dan kehormatan. Adapun bercanda yang selamat dari hal-hal negatif di atas, maka hukumnya mubah (boleh).
Wallahua’lam bisshowaab….


0 komentar:
Posting Komentar