Sabtu, 15 Agustus 2026

Ngaji Kitab Qimatuzzaman ‘Indal Ulama’ (Berharganya Waktu menurut Para Ulama’) Seri Ke - 6


 

Allah ta’ala bersumpah dengan sesuatu yang Allah kehendaki. Allah ta’ala bersumpah dengan diriNya sendiri di dalam Al Qur’an: 


QS. Adz-Dzariyat: Ayat 23 (Juz 26)

فَوَرَبِّ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ اِنَّهٗ لَحَقٌّ مِّثْلَ مَآ اَنَّكُمْ تَنْطِقُوْنَࣖ

Maka, demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya (apa yang dijanjikan kepadamu itu) pasti akan nyata seperti (halnya) kamu berucap.


dan Allah ta’ala bersumpah dengan perbuatan²Nya yang luar biasa dan ciptaan²nya yang bagus:


QS. Asy-Syams: Ayat 5 dan 6 (Juz 30)

وَالسَّمَاۤءِ وَمَا بَنٰىهَاۖ

demi langit serta pembuatannya,

وَالْاَرْضِ وَمَا طَحٰىهَاۖ

demi bumi serta penghamparannya,


Allah ta’ala bersumpah dengan waktu:


QS. Adh-Dhuha: Ayat 1 dan 2 (Juz 30)

وَالضُّحٰىۙ

Demi waktu duha

وَالَّيْلِ اِذَا سَجٰىۙ

dan demi waktu malam apabila telah sunyi,



QS. Al-Fajr: Ayat 1 dan 2 (Juz 30)

وَالْفَجْرِۙ

Demi waktu fajar,

وَلَيَالٍ عَشْرٍۙ

demi malam yang sepuluh,


Secara makna, bersumpah dengan waktu-waktu tersebut adalah bersumpah dengan Allah ta’ala karena Allah lah yang membuat dan menciptakannya. Ibnul Qoyyim berkata: Sesungguhnya Allah ta’ala bersumpah di dalam Al Qur’an dengan sesuatu atas sesuatu yang lain. Maka Allah ta’ala bersumpah dengan DzatNya yang disifati dengan sifatNya, bersumpah dengan tanda-tanda kebesaranNya yang dikehendaki untuk menetapkan DzatNya dan sifatNya, dan bersumpah dengan sebagian makhlukNya untuk menunjukkan bahwa mereka termasuk di antara tanda-tandaNya yang agung. Bisa dilihat bahwa setiap perkara yang Allah ta’ala bersumpah dengan waktu atasnya maka perkara tersebut adalah perkara yang menempati derajat urgensi yang paling tinggi. Sumpahnya Allah ta’ala dengan waktu itu ada pada 2 (dua) perkara yang sangat penting: pertama, membebaskan Rasul Shallallahu alaihi wassalam dari klaim/anggapan orang-orang musryik dan musuh²  bahwa Allah meninggalkan beliau. Tempat yang lain (kedua) adalah menjelaskan bahwa setiap manusia itu merugi dan binasa kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholih. 


Allah ta’ala berfirman seraya bersumpah dengan waktu: 


QS. Adh-Dhuha: Ayat 1-3 (Juz 30)

وَالضُّحٰىۙ

Demi waktu duha

وَالَّيْلِ اِذَا سَجٰىۙ

dan demi waktu malam apabila telah sunyi,

مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلٰىۗ

Tuhanmu (Nabi Muhammad) tidak meninggalkan dan tidak (pula) membencimu.


Allah ta’ala juga berfirman:


QS. Al-'Ashr: Ayat 1 (Juz 30)


وَالْعَصْرِۙ

Demi masa,

اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ

sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian,

اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِࣖ

kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran.


Sayyidina Abdullah bin Abbas (tintanya umat, ahli tafsirnya Al Qur’an) berkata: makna lafadz Al Ashr adalah zaman/waktu.


Wallahua’lam bisshowaabb….

Bersambung….


والله تعالى أن يُقْسِمَ بما شاء، فأقسم تعالى بنفسه في القرآن : ﴿فَوَرَبِّ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ إِنَّهُ لَحَقٌّ﴾^{(1)} ، وأقْسَمَ بأفعاله العجيبة، ومصنوعاته البديعة : ﴿وَالسَّمَاءِ وَمَا بَنَاهَا ، وَالْأَرْضِ وَمَا طَحَاهَا﴾^{(2)} ، وأقْسَمَ بالزمن والوقت : ﴿وَالضُّحَى وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى﴾، ﴿وَالْفَجْرِ وَلَيَالٍ عَشْرٍ﴾، والقَسَمُ بها في معنى القَسَمِ به تعالى، إذ هو صانعُها ومُبْدِعُها .

قال ابنُ القيم : إنه يُقسمُ في القرآن بأمورٍ على أمور، فيُقْسِمُ بذاته الموصوفة بصفاته، وبآياته المستلزمة لإثبات ذاته وصفاته، ويُقْسِمُ ببعض مخلوقاته، للدلالة على أنها من عظيم آياته . انتهى .

ويُلاحَظُ أنَّ كلَّ ما أقسم اللهُ عليه بالزَّمَن ، كان هاماً في أعلى دَرَجَاتِ الأهميَّة، وكان قَسَمُهُ بالزمن في أَمْرَيْنِ هَامَّينِ جدَّاً، أحدهما تَبْرِئَةُ الرسولِ صَلَّى الله عليه وسلَّم ، من أن يكونَ هَجَرَهُ ربهُ كما زَعَمَ ذلك المشركون والأعداء . والمقامُ الآخَرُ في بيانِ أنَّ كلَّ إنسانٍ خاسرٌ وهالكٌ إلَّا الذين آمنوا وعملوا الصالحات .

فقال سبحانه مُقْسِماً بالزَّمَن : ﴿وَالضُّحَى ؛ وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى ؛ مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى﴾^{(3)} ، وقال أيضاً : ﴿وَالْعَصْرِ ؛ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ ؛ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ﴾^{(4)} .

قال حَبْرُ الأمة وتُرْجُمانُ القرآن سيدنا عبدُ الله بن عباس رضي الله عنهما : العَصْرُ هو الزمن .

الحواشي

(١) من سورة الذاريات، الآية ٢٣ .

(٢) من سورة الشمس، الآيتان ٥ و ٦ .

(٣) من سورة الضحى، الآيات ١ _ ٣ .

(٤) zسورة العصر .

Rabu, 05 Agustus 2026

Ngaji Kitab Qimatuzzaman ‘Indal Ulama’ (Berharganya Waktu menurut Para Ulama’) Seri Ke - 5


 

Imam Ibnu Katsir menafsirkan ayat yang mulia ini di dalam kitab tafsirnya:


Maksudnya: Bukankah kalian telah hidup di dunia ini dalam rentang usia yang—sekiranya kalian termasuk orang yang mau mengambil manfaat dari kebenaran—niscaya kalian telah memanfaatkannya sepanjang masa hidup kalian itu!


Qatadah berkata: Ketahuilah bahwa umur yang panjang itu adalah sebuah hujjah (alasan yang menuntut pertanggungjawaban), maka kami berlindung kepada Allah agar tidak mendapat celaan sebab umur yang panjang.


Allah menghilangkan udzur (alasan untuk tidak beramal baik) atas orang yang umurnya mencapai 60 tahun


Imam Bukhori meriwayatkan hadist dalam kitab shohihnya, dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, beliau berkata: Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam berdabda: “Allah ‘azza wajalla menghilangkan udzur (alasan) seseorang yang diakhirkan umurnya hingga mencapai 60 tahun”


Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya, dari Abu Hurairah juga: Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam berdabda: “Barangsiapa yang dipanjangkan umurnya oleh Allah mencapai 60 tahun maka sungguh Allah telah menghilangkan udzur (alasan) kepadanya”, maksudnya adalah Allah telah menghilangkan udzurnya dan tidak tersisa baginya tempat untuk beralasan lagi karena Allah telah memberi waktu kepadanya dengan umur yang panjang. Dalam syair dikatakan:


“Sesungguhnya seseorang itu telah berjalan selama 60 tahun menuju ke sumber air. Sungguh telah dekat ia dengan tempat sampainya (ke sumber air tersebut).”


Allah ta’ala bersumpah demi waktu untuk menunjukkan keagungan dan keutamaannya


Di sana (Al Quran) terdapat banyak ayat yang memberikan peringatan akan agungnya pokok nikmat ini selain yang telah kusebutkan sebelumnya. Cukuplah bagimu untuk tahu bahwa Allah telah bersumpah demi waktu pada kondisi (masa) yang berbeda-beda, dalam kitabNya yang mulia, dalam ayat² yang melimpah, sebagai bentuk pemberitahuan dariNya akan berharganya waktu dan peringatan akan pentingnya waktu. Maka Allah -Maha Agung urusanNya- bersumpah demi waktu malam, siang, fajar, pagi, senja, dhuha dan waktu ashar (masa). Di antara hal tersebut adalah firman Allah ta’ala:


QS. Al-Lail: Ayat 1 dan 2 (Juz 30)


وَالَّيْلِ اِذَا يَغْشٰىۙ

Demi malam apabila menutupi (cahaya siang),

وَالنَّهَارِ اِذَا تَجَلّٰىۙ

demi siang apabila terang benderang,


Wallahua’lam bisshowaab….

Bersambung….


قال الحافظ ابن كثير في «تفسيره» (١) في تفسير هذه الآية الكريمة: «أي أو ما عشتم في الدنيا أعماراً لو كنتم ممن يَنْتَفِع بالحق لانتفعتم به في مُدَّةِ عُمُرِكُم! قال قتادة: اعْلَمُوا أَنَّ طُولَ العُمُرِ حُجَّة، فنعوذُ بالله أن نُعَيَّر بطول العمر».


إعذارُ الله لمن بلَّغَه من العُمُر ستين سنة

وَرَوَى البخاري في «صحيحه» (٢)، عن أبي هريرة رضي الله عنه، قال: قال رسول الله صلَّى الله عليه وسلَّم: «أَعْذَرَ اللهُ عزَّ وجلَّ إلى امرِىءٍ أَخَّر عُمُرَه حتى بَلَّغَهُ ستين سَنَةً»، ورَوَى الإمام أحمد في «مسنده» (٣)، عن أبي هريرة أيضاً: قال: قال رسول الله صلَّى الله عليه وسلَّم: «من عَمَّرَه اللهُ تعالى ستين سَنَةً، فقد أعذَر إليه في العُمُر»، أي أزال عُذْرَهُ ولم يُبْقِ له موضعاً للاعتذار، إذْ أمْهَلَهُ طُولَ هذه المُدَّةِ المديدةِ من العُمُر.

وإِنَّ امرءاً قد سار سِتِّين حِجَّةً ... إلى مَنْهَلٍ من وِرْدِه لقريبُ

قَسَمُ الله تعالى بالزمنِ لبيانِ عِظَمِهِ وأهميته

وهناك آياتٌ كثيرةٌ فيها التنبيهُ إلى عِظَم هذا الأصل من النِّعَمِ غيرُ التي أسلَفْتُها، وحسبُكَ أن تعلمَ أنَّ الله سبحانه قد أقسَمَ بالزمن في مختلِفِ أطوارِهِ، في كتابه الكريم، في آياتٍ جَمَّة، إشعاراً منه بقيمةِ الزَّمنِ، وتنبيهاً إلى أهميته، فأقسَمَ جَلَّ شأنُهُ باللَّيلِ، والنَّهارِ، والفَجْرِ، والصُّبْح، والشَّفَقِ، والضُّحَى، والعَصْر، فمن ذلك قولُهُ تعالى: ﴿وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى، وَالنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّى﴾ (٤)،

(١) ٥: ٥٨٩ - ٥٩٠.

(٢) ١١: ٢٣٨، في كتاب الرقاق، (باب من بلَّغ ستين سَنَة فقد أعذَرَ اللهُ إليه في العُمُر).

(٣) ٢: ٤١٧.

(٤) من سورة الليل، الآيتان ١، ٢.