Jumat, 29 Mei 2026

Seringkali kita ‘gojlok-gojlokan’ dengan teman sebagai tanda keakraban. Bagaimana hukumnya?

 


Jawaban:

Boleh (mubah), bahkan terkadang sunnah dengan syarat tidak terjadi hal-hal berikut ini:

  1. Menyakiti hati orang yang digojlok
  2. Tidak ada unsur kedustaan, ghibah atau riya’ dan keharaman sejenisnya dalam gojlokan tersebut
  3. Tidak dilakukan secara terus-menerus karena bisa menyebabkan kerasnya hati, lalai berdzikir, dll. 


Jika ada unsur² di atas maka hukumnya Haram.


Kitab Mirqot As Su’ud At Tashdiq

مرقاة الصعود التصديق (٩٣) - (والاستهزاء) أي السخرية (بالمسلم) وهذا محرم مهما كان مؤذيا - إلى أن قال - وكل هذا يرجع إلى استحقار الغير والضحك عليه والاستهانة به وهذا إنما يحرم في حق من يتأذى به فأما من جعل نفسه مسخرة وربما فرح من أن يسخر به كانت السخرية في حقه من جملة المزاح أفاد ذلك كله الغزالي .

Menggojlok (gojlokan) kepada orang muslim hukumnya haram JIKA sampai MENYAKITI HATI…..dst…… Kesemuanya ini bermuara pada merendahkan orang lain, menertawakan dan menghinakan orang lain. Ini hanya haram bagi orang yang tersakiti karena gojlokan tersebut. Adapun orang yang menjadikan dirinya sendiri sebagai bahan gojlokan dan seringkali dia JUSTRU SENANG untuk digojlok, maka gojlokan baginya termasuk candaan (senda gurau saja). Semua faidah ini disampaikan oleh Imam Al-Ghazali. 


Kitab At Thoriqoh Muhammadiyah

الطريقة المحمدية (١٦٣-١٦٤) - (والخامس) الكلام فيما لا ينبغي مثل حكاية أسفارك وما رأيت فيها من جبال وأنهار وأطعمة وثياب ومنه السؤال عما لا يهم وهذا إذا خلا عن الكذب والغيبة والرياء ونحوها من المحرمات لا يحرم بل قد يستحب إذا قارنه نية صالحة - إلى أن قال - وكذا يستحب المزاح في هذه المواضع نعم بهذه النيات يخرج عن حد ما لا يعني فكل ما لا يعني يستحب تركه.

Yang kelima, ucapan tentang sesuatu yang tidak begitu penting seperti menceritakan perjalananmu (safarmu) dan hal-hal yang kau lihat dalam perjalananmu seperti gunung, sungai, makanan dan pakaian. Termasuk kategori ini adalah bertanya tentang sesuatu yang tidak penting. Ini apabila terbebas dari kedustaan, ghibah (menggunjing), riya, dan keharaman sejenisnya maka hukumnya tidak haram. Bahkan, terkadang dianjurkan (sunah) jika dibarengi dengan niat yang baik …..dst……. Begitu pula disunnahkan bercanda dalam kondisi-kondisi ini. Benar, dengan adanya niat (baik) ini maka ucapan keluar dari batasan sesuatu yang tidak bermanfaat karena segala sesuatu yang tidak bermanfaat disunahkan untuk ditinggalkan. 


Kitab Al Adzkar An Nawawi

الأذكار للنووي (٥٢٦) - وروينا في كتاب الترمذي عن ابن عباس رضي الله عنهما عن النبي (صلى الله عليه وسلم) قال : " لا تمار أخاك، ولا تمازحه، ولا تعده موعدا فتخلفه ".قال العلماء : المزاح المنهي عنه، هو الذي فيه إفراط ويداوم عليه، فإنه يورث الضحك وقسوة القلب، ويشغل عن ذكر الله تعالى والفكر في مهمات الدين، ويؤول في كثير من الأوقات إلى الإيذاء، ويورث الأحقاد، ويسقط المهابة والوقار. فأما ما سلم من هذه الأمور فهو المباح.

Dan kami meriwayatkan dalam kitab At-Tirmidzi dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Janganlah kamu bertengkar dengan saudaramu, jangan bercanda (gojlokan) dengannya, dan jangan membuat janji kepadanya lalu kamu mengingkarinya.” Para ulama’ berkata: bercanda (gojlokan) yang dilarang adalah bercanda yang berlebihan (melampaui batas) dan dilakukan terus-menerus karena hal tersebut dapat menyebabkan banyak tertawa dan kerasnya hati, melalaikan dari berzikir kepada Allah Ta'ala dan memikirkan perkara penting dalam agama, seringkali mengakibatkan idza’ (menyakiti orang lain), menimbulkan dendam dalam hati, menjatuhkan wibawa dan kehormatan. Adapun bercanda yang selamat dari hal-hal negatif di atas, maka hukumnya mubah (boleh).


Wallahua’lam bisshowaab….

Rabu, 20 Mei 2026

Hukum mendahulukan orang lain (alias mengalah) dalam perkara ibadah adalah MAKRUH. Apakah hukum ini berlaku apabila kita mendahulukan guru kita dalam urusan ibadah?


 

Jawaban:

Mendahulukan guru kita dalam urusan ibadah hukumnya tidak makruh karena mengandung maslahat umum. Silahkan disimak redaksi berikut ini dalam kasus menempati shaf awal dalam shalat:


Kitab Nihayatul Muhtaj Syarh Al Minhaj

نهاية المحتاج - ويحرم أن يقيم أحدا ليجلس مكانه بل يقول تفسحوا للأمر به ، فإن قام الجالس : باختياره وأجلس غيره فيه لم يكره للجالس ولا لمن قام منه إن انتقل إلى مكان أقرب إلى الإمام أو مثله ، وإلا كره إن لم يكن عذر لأن الإيثار بالقرب مكروه ، بخلافه في حظوظ النفس فإنه مطلوب { ويؤثرون على أنفسهم } ولو آثر شخصا أحق بذلك المحل منه لكونه قارئا أو عالما يلي الإمام لعلمه أو يرد عليه إذا غلط فهل يكره أيضا أو لا لكونه مصلحة عامة ؟ الأوجه الثاني

Haram hukumnya seseorang menyuruh orang lain berdiri (dari tempat duduknya) untuk kemudian menempatinya, sebaliknya Dia harus berkata: “berikanlah tempat (permisi, geser sedikit ya)” karena ada perintah tersebut. Apabila orang yang duduk tadi berdiri dengan sukarela dan mempersilahkan orang lain untuk menduduki tempatnya maka tidak makruh bagi keduanya (tidak makruh bagi orang yang duduk dan orang yang berdiri) jika memang orang yang berdiri tadi berpindah lebih dekat dengan imam atau ke tempat yang setara. Jika tidak demikian (tidak lebih dekat dengan imam atau tidak setara dengan posisi awal) maka makruh hukumnya berpindah jika tidak ada udzur karena itsar (mendahulukan orang lain) dalam urusan ibadah (mendekatkan diri kepada Allah) itu hukumnya makruh. Berbeda halnya dalam urusan kesenangan pribadi (dan urusan duniawi) maka itsar dianjurkan sebagaimana firman Allah: “Dan mereka mengutamakan (orang lain) atas diri mereka sendiri.” Lalu, bagaimana jika ia mendahulukan orang lain yang lebih berhak atas tempat tersebut daripada dirinya sendiri—misalnya karena orang itu adalah seorang qari' (ahli membaca Al-Qur'an) atau seorang ulama yang berada di belakang imam bertujuan untuk mengajarinya atau untuk membetulkan bacaan imam jika terjadi kekeliruan—apakah hal ini tetap dimakruhkan, ataukah tidak karena mengandung kemaslahatan umum? Pendapat yang paling kuat (al-awjah) adalah pendapat yang kedua (yaitu tidak dimakruhkan)."


Wallahua’lam bisshowaab….