Imam Ibnu Katsir menafsirkan ayat yang mulia ini di dalam kitab tafsirnya:
Maksudnya: Bukankah kalian telah hidup di dunia ini dalam rentang usia yang—sekiranya kalian termasuk orang yang mau mengambil manfaat dari kebenaran—niscaya kalian telah memanfaatkannya sepanjang masa hidup kalian itu!
Qatadah berkata: Ketahuilah bahwa umur yang panjang itu adalah sebuah hujjah (alasan yang menuntut pertanggungjawaban), maka kami berlindung kepada Allah agar tidak mendapat celaan sebab umur yang panjang.
Allah menghilangkan udzur (alasan untuk tidak beramal baik) atas orang yang umurnya mencapai 60 tahun
Imam Bukhori meriwayatkan hadist dalam kitab shohihnya, dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, beliau berkata: Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam berdabda: “Allah ‘azza wajalla menghilangkan udzur (alasan) seseorang yang diakhirkan umurnya hingga mencapai 60 tahun”
Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya, dari Abu Hurairah juga: Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam berdabda: “Barangsiapa yang dipanjangkan umurnya oleh Allah mencapai 60 tahun maka sungguh Allah telah menghilangkan udzur (alasan) kepadanya”, maksudnya adalah Allah telah menghilangkan udzurnya dan tidak tersisa baginya tempat untuk beralasan lagi karena Allah telah memberi waktu kepadanya dengan umur yang panjang. Dalam syair dikatakan:
“Sesungguhnya seseorang itu telah berjalan selama 60 tahun menuju ke sumber air. Sungguh telah dekat ia dengan tempat sampainya (ke sumber air tersebut).”
Allah ta’ala bersumpah demi waktu untuk menunjukkan keagungan dan keutamaannya
Di sana (Al Quran) terdapat banyak ayat yang memberikan peringatan akan agungnya pokok nikmat ini selain yang telah kusebutkan sebelumnya. Cukuplah bagimu untuk tahu bahwa Allah telah bersumpah demi waktu pada kondisi (masa) yang berbeda-beda, dalam kitabNya yang mulia, dalam ayat² yang melimpah, sebagai bentuk pemberitahuan dariNya akan berharganya waktu dan peringatan akan pentingnya waktu. Maka Allah -Maha Agung urusanNya- bersumpah demi waktu malam, siang, fajar, pagi, senja, dhuha dan waktu ashar (masa). Di antara hal tersebut adalah firman Allah ta’ala:
QS. Al-Lail: Ayat 1 dan 2 (Juz 30)
وَالَّيْلِ اِذَا يَغْشٰىۙ
Demi malam apabila menutupi (cahaya siang),
وَالنَّهَارِ اِذَا تَجَلّٰىۙ
demi siang apabila terang benderang,
Wallahua’lam bisshowaab….
Bersambung….
قال الحافظ ابن كثير في «تفسيره» (١) في تفسير هذه الآية الكريمة: «أي أو ما عشتم في الدنيا أعماراً لو كنتم ممن يَنْتَفِع بالحق لانتفعتم به في مُدَّةِ عُمُرِكُم! قال قتادة: اعْلَمُوا أَنَّ طُولَ العُمُرِ حُجَّة، فنعوذُ بالله أن نُعَيَّر بطول العمر».
إعذارُ الله لمن بلَّغَه من العُمُر ستين سنة
وَرَوَى البخاري في «صحيحه» (٢)، عن أبي هريرة رضي الله عنه، قال: قال رسول الله صلَّى الله عليه وسلَّم: «أَعْذَرَ اللهُ عزَّ وجلَّ إلى امرِىءٍ أَخَّر عُمُرَه حتى بَلَّغَهُ ستين سَنَةً»، ورَوَى الإمام أحمد في «مسنده» (٣)، عن أبي هريرة أيضاً: قال: قال رسول الله صلَّى الله عليه وسلَّم: «من عَمَّرَه اللهُ تعالى ستين سَنَةً، فقد أعذَر إليه في العُمُر»، أي أزال عُذْرَهُ ولم يُبْقِ له موضعاً للاعتذار، إذْ أمْهَلَهُ طُولَ هذه المُدَّةِ المديدةِ من العُمُر.
وإِنَّ امرءاً قد سار سِتِّين حِجَّةً ... إلى مَنْهَلٍ من وِرْدِه لقريبُ
قَسَمُ الله تعالى بالزمنِ لبيانِ عِظَمِهِ وأهميته
وهناك آياتٌ كثيرةٌ فيها التنبيهُ إلى عِظَم هذا الأصل من النِّعَمِ غيرُ التي أسلَفْتُها، وحسبُكَ أن تعلمَ أنَّ الله سبحانه قد أقسَمَ بالزمن في مختلِفِ أطوارِهِ، في كتابه الكريم، في آياتٍ جَمَّة، إشعاراً منه بقيمةِ الزَّمنِ، وتنبيهاً إلى أهميته، فأقسَمَ جَلَّ شأنُهُ باللَّيلِ، والنَّهارِ، والفَجْرِ، والصُّبْح، والشَّفَقِ، والضُّحَى، والعَصْر، فمن ذلك قولُهُ تعالى: ﴿وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى، وَالنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّى﴾ (٤)،
(١) ٥: ٥٨٩ - ٥٩٠.
(٢) ١١: ٢٣٨، في كتاب الرقاق، (باب من بلَّغ ستين سَنَة فقد أعذَرَ اللهُ إليه في العُمُر).
(٣) ٢: ٤١٧.
(٤) من سورة الليل، الآيتان ١، ٢.


0 komentar:
Posting Komentar